Kamis, 11 Juli 2013

Hanya Akan Menjadi Sarana Perdebatan Yang Tak Berujung

Ketika dijelaskan bahwa Krishna adalah "nirguna" atau "nirakara", yang sedang dijelaskan adalah tentang apa-apa yang bukan Krishna, atau sifat/keadaan yang bukan Krishna. Jadi dapat dikatakan bahwa ini adalah cara persepsi yang negatif, atau menegasikan, yakni dengan mengemukakan apa yang bukan. Sebagai sekedar kata-kata, kesimpulan seperti ini sesungguhnya adalah tidak sejati.

Demikian pula sebaliknya. Pendekatan positif dengan menyatakan bahwa Krishna adalah “anandamaya” atau "saguna", yakni penuh dengan sifat-sifat rohani seperti kebahagiaan kekekalan, dsb., bila hanya pada tataran kata-kata sesungguhnya itu sama tidak sejatinya dengan yang sebelumnya.

Mengapa demikian? Karena bila hanya sekedar kata-kata maka realitas yang sejati masih belum dijangkau. Ananda, atau kebahagiaan, akan dipahami berbeda-beda oleh orang dengan tingkat kesadaran yang berbeda-beda. Secara umum orang akan memaknai kebahagiaan itu sebagai kepuasan, atau kenikmatan, yang terjadi dari kontak indera-indera dengan obyek-obyek indera. Itu tentu bukanlah ananda. Maka sesungguhnya kebanyakan orang belum akan mampu mengerti dengan benar apa ananda itu. Dalam keadaan demikian, jika kita membicarakan Krishna sebagai sumber kebahagiaan atau "anandamaya", maka orang akan memaknainya keliru yakni ke arah kepuasan kasar indera-indera jasmani. Akibatnya, terjadilah materialisasi hal-hal spiritual, atau pemaknaan yang dangkal terhadap realitas spiritual, dan ini banyak terjadi bahkan juga di kalangan para penyembah/Vaishnava yang masih pemula. 

Hal yang serupa terjadi pula pada cara persepsi negatif. Pemaknaan yang keliru terhadap negasi atau "hal-hal yang bukan" akan mengantarkan pada kehampaan atau kekosongan yang dangkal, yang terasa hambar dan banyak dapat kita temukan pada filsafat para penekun Upanisad pemula. 

Akar permasalahan dari kedua sisi kelompok pemahaman ini adalah kekeliruan menganggap konsep sebagai realitas sejati. Konsep-konsep pada tataran pikiran dan kecerdasan dianggap sebagai kesejatian, atau disamakan dengan kebenaran/realitas tertinggi yang sejati.

Ketika realitas yang sejati telah benar-benar dicapai dan dialami, penyebutan Kebenaran Mutlak itu sebagai Krishna, Brahman, Paramatma, Allah, Sang Hyang Widhi, dll., baru akan bermuatan makna yang sejati, yang berbeda dengan pemaknaan orang-orang yang masih pada tataran konsep-konsep intelektual. Seseorang baru akan benar-benar mengerti dan menginsafi bagaimana Kebenaran Mutlak adalah "nirguna" atau "nirakara" tetapi sama sekali bukan hampa atau kosong, dan demikian pula bagaimana Kebenaran Mutlak adalah "anandamaya", namun sama sekali bukan sekedar kepuasan atau kenikmatan dangkal.

Sebelum pengetahuan sejati dan pengalaman keinsafan-langsung benar-benar diperoleh, kita masih akan berada pada tataran non-realitas, tidak memandang betapa pun canggih dan rumit serta tingginya konsep-konsep yang kita pegang. Maka pada tataran konsep pemahaman intelektual, para pemula akan terus saja berbeda pendapat dan saling memandang rendah.

Para penekun Upanisad
memandang remeh para Vaishnava atas konsep kekongkritan Kebenaran Mutlak yang berupa nama, bentuk, sifat dan kegiatan Kebenaran mutlak, yang dianut oleh para Vaishnava, demikian pula para Vaishnava memandang remeh para penekun Upanisad dengan menganggapnya hambar, hampa, kosong, kering.

Semua konsep tersebut hanyalah ibaratnya jubah-jubah luar yang berbeda-beda. Sebelum kita benar-benar menjangkau Realitas Sejati, dan mendekatinya melalui pengalaman-langsung, semua konsep itu hanya akan menjadi sarana perdebatan, sarana perselisihan, yang tak berujung.


Apakah sesungguhnya yang dimaksudkan oleh para Rishi ketika mereka menyebut Dia "nirakara"? Apakah yang sesungguhnya dimaksudkan oleh Sang Buddha ketika menyebut Dia "anatman"? Apakah sesungguhnya yang dimaksudkan oleh para Vaisnava ketika menyebut Dia akhila-rasamrita murti? Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan ini dapat ditemukan dalam ranah pengalaman, tidak bisa semata-mata pada ranah dialektika/argumentasi logika. Ketika cahaya keinsafan melalui pengalaman-langsung terpancar dan mengisi/memuati konsep-konsep yang hampa itu, maka baru penerimaan atau pemahaman mengalir masuk bagaikan lautan dan kita dapat mengetahui dengan sesungguhnya mengapa istilah-istilah tersebut di atas digunakan.

Senin, 20 Mei 2013

KRISHNA, Transenden dan Imanen


Alkisah seorang yang beriman sedang terjebak banjir yang terus semakin meninggi. Ia memilih untuk terus bertahan di rumahnya, sementara orang lain berhamburan menyelamatkan diri. Ia naik ke loteng rumahnya seiring makin meningginya banjir, sambil berpengharapan bahwa Tuhan pasti akan menyelamatkan dirinya karena merasa dirinya sebagai orang yang sepanjang hidupnya taat menjalankan perintah-perintah Tuhan. Tim penyelamatan banjir mulai mengirimkan perahu untuk menjemput orang beriman itu ke tempat aman, namun ia menolaknya sambil terus berpikir bahwa Tuhan lah yang akan menyelamatkan dirinya. Sampai tiga kali perahu datang menjemput namun ia masih lebih memilih untuk bertahan di loteng rumahnya sampai akhirnya tinggi banjir menyapu loteng rumahnya dan hanyutlah dia. Setelah meninggal dunia, dikisahkan bahwa dia bertemu Tuhan dan ia pun menuntut, “Tuhanku, aku adalah hamba-Mu yang beriman kepada-Mu, tetapi mengapa Engkau tidak menyelamatkan aku dari banjir?” Tuhanpun kemudian menjawab, “Bukankah AKU telah mengirimkan tiga perahu untuk menyelamatkan dirimu?”

Ilustrasi di atas pasti sudah pernah kita baca atau dengar, yang dipakai untuk menggambarkan bagaimana sesungguhnya “tangan-tangan Tuhan” itu ada dekat dengan kita, senantiasa hadir dengan cara yang tidak terbatas. Bisa jadi hadirnya tangan-tangan Tuhan itu dalam bentuk nasihat, tulisan, bantuan, guncangan, senyuman, sentilan, makian, tangisan, pujian atau dalam bentuk yang lain. Pertanyaannya adalah apakah kita sudah cukup peka terhadap hadirnya Tuhan di hadapan kita? Ataukah justru kita sedang terus mengabaikannya?

Keinsafan akan Tuhan yang transenden, yakni Tuhan yang berada nun jauh di sana, di kediaman-Nya, adalah keinsafan tingkat pemula dalam jalan spiritual. Keinsafan yang lebih maju adalah keinsafan akan Tuhan yang imanen, yakni Tuhan yang dirasakan senantiasa hadir pada setiap kejadian, di segala ruang dan waktu. Keinsafan akan Tuhan yang imanen tidak berarti meniadakan keberadaan Tuhan yang transenden. Tuhan adalah imanen dan transenden pada saat yang bersamaan.

Demikian pula dalam jalan bhakti, jalan kesadaran Krishna. Bisa jadi kita terus berdoa, bersembahyang, melakukan segala bentuk sadhana bhakti dengan kesadaran bahwa Krishna adanya nun jauh di sana, di dunia rohani, yang baru akan bisa kita temui dan berinteraksi dalam hubungan-hubungan cinta kasih setelah kita mencapai kesempurnaan, setelah meninggal dunia dan memenuhi syarat untuk memasuki dunia rohani. Sementara pada saat yang sama dalam hidup ini kita gagal merasakan dan melihat Krishna dan cinta kasih kepada Krishna dalam segala hubungan kita dengan sesama penyembah, sesama manusia, sesama makhluk hidup. Krishna hanya ada di awang-awang, atau mungkin sedikit lebih maju, Krishna hanya ada di altar dan hanya hadir saat kita sembahyang…

~~~~~~~~~~~

Ibarat kereta udara membawa aroma wangi dari sumbernya dan langsung memikat indera penciuman, begitu pula, orang yang senantiasa tekun dalam bhakti, dalam kesadaran Krishna, dapat memikat Roh Yang Utama, yang hadir di mana-mana secara merata.

Aku hadir di dalam setiap makhluk hidup sebagai Roh Yang Utama. Apabila seseorang mengabaikan bahwa Roh Yang Utama ada di mana-mana dan ia menyibukkan diri dalam pemujaan Arca di kuil, maka itu hanyalah kepalsuan.

Orang yang memuja Arca Tuhan di kuil tapi tidak mengetahui bahwa Tuhan, sebagai Paramatma, berada di hati setiap makhluk hidup, pasti berada dalam kebodohan dan ia diibaratkan orang yang menghaturkan persembahan ke dalam abu.

Orang yang memperlihatkan sikap hormat kepada-Ku namun iri hati terhadap badan orang lain sehingga ia disebut separatis, tidak pernah mencapai kedamaian pikiran, disebabkan oleh sikap permusuhannya terhadap makhluk hidup lain.

Wahai ibu, orang yang tidak mengetahui kehadiran-Ku di dalam semua makhluk hidup tidak pernah membuat diri-Ku puas dengan pemujaan kepada Arca-Ku di kuil, bahkan jika ia melakukan pemujaan dengan ritual-ritual dan sarana yang benar.

Dengan melaksanakan tugas kewajiban yang ditetapkan baginya, orang hendaknya memuja Arca Personalitas Tuhan Yang Maha Esa sampai ia menginsafi kehadiran-Ku di hatinya sendiri dan juga di hati makhluk hidup lainnya.

Srimad-Bhagavatam, 3.29.20-25

Rabu, 30 Januari 2013

Dunia Ini Berdiri Tegak Tanpa Memerlukan Adanya Para Pembaharu

Dunia ini berdiri tegak tanpa memerlukan adanya para pembaharu. Dunia ini memiliki sosok pribadi yang sangat kompeten untuk mengarahkan segala yang terjadi di dalamnya sampai hal-hal terkecil sekalipun. Orang yang menganggap bahwa ada ruang perbaikan bagi dunia ini maka sesungguhnya dia sendirilah yang memerlukan perbaikan.

Dunia berjalan dengan caranya sendiri yang sempurna. Tidak seorang pun dapat membelokkan arah pergerakannya sebagaimana yang telah digariskan oleh takdir bahkan selebar sehelai rambut sekalipun. Ketika kita mengamati suatu perubahan sedang terjadi seiring terjadinya peristiwa-peristiwa di dunia ini melalui perantaraan individu tertentu, kita harus mengetahui secara pasti bahwa pada tahap mana pun sang perantara tersebut tidaklah memiliki kekuatan tersendiri. Sang perantara tersebut akan menemukan bahwa dirinya sedang diarahkan oleh sebuah kekuatan yang bukan berasal dari dirinya sendiri. Arah pergerakan dunia tidak perlu mengalami perubahan yang disebabkan oleh perantaraan orang mana pun.

Yang diperlukan adalah perubahan cara pandang kita terhadap dunia ini. Perubahan cara pandang tersebut dapat dicapai bagi generasi masa kini atas karunia Sri Chaitanya. Hal ini hanya dapat dimengerti oleh para penerima karunia Sri Caitanya. Kitab-kitab suci menyatakan bahwa yang diperlukan hanyalah mendengarkan nama Krishna dengan pikiran terbuka dari bibir seorang penyembah. Begitu Krishna masuk ke dalam telinga orang yang mendengarkan tersebut, Krishna menjernihkan penglihatannya hingga ia tidak lagi memiliki ambisi apa pun untuk bertindak sebagai pembaharu bagi pihak lain mana pun sebab ia mengerti bahwa tidak ada seorang pun yang tidak sedang dituntun oleh pembimbing tertinggi. Karena itu, pembaharuan dirinya sendiri lah yang terus menerus semakin mampu ia insafi, atas karunia kekal yang tanpa henti dari Tuhan Yang Mahakuasa."

— Dari The Harmonist, Mei 1932, edisi nomor 11. Artikel ini memiliki judul asli “Sree Chaitanya di India Selatan." Hal. 325-326.

Rabu, 23 Januari 2013

Kita Harus Berpikir Untuk Diri Kita Sendiri


Kutipan dari “Bhagavata (Srimad-Bhagavatam), Filosofi, Etika, dan Teologi yang Terkandung di Dalamnya”
Karya Srila Saccidananda Bhaktivinode Thakura

Kita senang membaca buku yang belum pernah kita baca sebelumnya. Kita merasa penasaran untuk dapat mengumpulkan segala informasi yang terkandung di dalamnya dan setelah kita mendapatkannya rasa penasaran kita pun terhenti. Jenis cara studi yang seperti ini sangat umum di kalangan banyak pembaca, yang merupakan tokoh-tokoh besar menurut ukuran mereka sendiri maupun menurut ukuran orang-orang yang termasuk kelompok mereka sendiri. Kenyataannya, kebanyakan pembaca semata-mata hanyalah penampung-penampung segala fakta dan pernyataan yang dibuat oleh orang lain. Namun yang demikian bukanlah studi/pembelajaran.

Seorang siswa hendaknya membaca fakta-fakta dengan sebuah maksud/pandangan untuk mencipta, mengkreasi, dan bukan dengan tujuan untuk sekadar disimpan yang tanpa membuahkan hasil. Siswa-siswa yang ibaratnya satelit-satelit hendaknya memancarkan segala cahaya yang mereka terima dari para penulis dan tidak memenjarakan fakta-fakta dan pemikiran, seperti halnya para hakim memenjarakan para narapidana.

Pemikiran itu bersifat progresif. Pemikiran sang penulis harus mengalami progres (kemajuan) pada diri sang pembaca dalam bentuk koreksi (perbaikan) ataupun pengembangan. Kritikus terbaik adalah dia yang sanggup menampilkan pengembangan lebih lanjut atas sebuah pemikiran lama; sementara orang yang semata-mata hanya meneruskan adalah musuh bagi kemajuan dan karena itu merupakan musuh Alam.

"Mulailah sesuatu yang baru," kata para kritikus, “sebab para pendakwah kuno itu tidak akan memberi jawaban saat ini.” “Biarlah para penulis lama terkubur sebab zaman mereka telah berlalu.” Semua ini adalah ungkapan-ungkapan yang dangkal. Progres (kemajuan) tentu adalah hukum alam dan pasti terjadi koreksi (perbaikan) dan pengembangan seiring dengan kemajuan zaman. Namun progres (kemajuan) berarti pergi lebih jauh atau naik lebih tinggi.

Maka, jika kita mengikuti kritikus bodoh kita di atas itu, kita akan kembali ke ujung pangkal kita sebelumnya, dan kemudian membangun sebuah jalur baru, dan ketika kita telah berlari melewati setengah jalan menelusuri jalur tersebut, kritikus lain yang sejenis itu akan berseru: "Mulailah sesuatu yang baru, sebab jalan yang telah diambil adalah jalan yang salah!" Dengan cara demikian kritikus-kritikus bodoh kita ini tidak akan pernah membiarkan kita menelusuri keseluruhan jalur dan melihat apa yang ada di ujung jalan. Demikianlah para kritikus dangkal dan para pembaca yang tidak produktif adalah dua musuh terbesar kemajuan. Kita harus menghindari mereka.

Seorang kritikus sejati, di pihak lain, menyarankan agar kita mempertahankan apa yang telah kita capai, dan menyesuaikan jalur yang kita telusuri tepat dari titik yang telah kita capai dalam jalan kemajuan kita. Ia tidak akan pernah menyarankan agar kita kembali ke titik awal kita memulainya, sebab ia mengetahui sepenuhnya bahwa jika cara tersebut diambil maka akan terjadi kerugian yang tidak produktif atas waktu dan usaha kita yang sangat berharga. Ia akan mengarahkan penyesuaian sudut arah dari jalur kita tepat pada titik di mana kita sedang berada. Ini juga adalah karakteristik dari seorang siswa yang berdayaguna.

Seorang siswa yang demikian akan membaca karya seorang penulis-purba dan akan menemukan posisi/kedudukan-persis dirinya dalam kemajuan (progres) pemikiran. Ia tidak akan pernah mengusulkan untuk memusnahkan buku karya tersebut dengan alasan bahwa buku tersebut mengandung pemikiran-pemikiran yang tidak berguna.

Tidak ada pemikiran yang tidak berguna. Pemikiran-pemikiran adalah sarana yang memungkinkan kita untuk mencapai tujuan-tujuan kita. Pembaca yang mencela sebuah pemikiran yang buruk tidak mengetahui bahwa sebuah jalan yang buruk sudah tentu dapat diperbaiki dan diubah menjadi sebuah jalan yang baik.

Sebuah pemikiran adalah jalan yang mengantarkan menuju pemikiran berikutnya. Dengan demikian, pembaca akan menemukan bahwa sebuah pemikiran yang menjadi tujuan saat ini akan menjadi sarana-sarana bagi tujuan yang lebih jauh di masa mendatang. Pemikiran-pemikiran pasti akan terus menjadi rangkaian tanpa akhir dari sarana dan tujuan, dalam kemajuan umat manusia.

Tokoh-tokoh besar reformasi akan selalu menegaskan bahwa mereka datang bukan untuk menghancurkan hukum lama melainkan untuk mewujudkannya/ memenuhi maksud dan tujuannya. Valmiki, Vyasa, Plato, Yesus, Muhammad, Confucius dan Chaitanya Mahaprabhu menegaskan kenyataan ini baik melalui ungkapan kata-kata mereka ataupun melalui perilaku mereka.

Bhagavata (Srimad-Bhagavatam), seperti halnya seluruh karya keagamaan dan filsafat serta tulisan tokoh-tokoh besar, telah menerima efek sebagai akibat dari kelalaian para pembaca yang tak berdayaguna dan para kritikus bodoh. Para pembaca yang tak berdayaguna tersebut telah menyebabkan begitu banyak kerusakan terjadi terhadap karya tersebut sehingga efek buruk yang ditimbulkan melampaui efek buruk yang ditimbulkan oleh para kritikus bodoh.

Insan-insan yang memiliki pemikiran-pemikiran yang brilian telah menjumpai karya ini dalam pencarian mereka akan kebenaran dan filosofi, namun prasangka yang mereka serap dari para pembaca yang tak berdayaguna tersebut dan perilaku yang diperlihatkan oleh para pembaca yang tak berdayaguna tersebut telah menghalangi mereka untuk melakukan investigasi/penyelidikan yang jujur dan terbuka.

Dua prinsip menggambarkan karakteristik Bhagavata—kemerdekaan (liberty) dan kemajuan sang jiwa, sepanjang keabadian. Bhagavata mengajarkan kepada kita bahwa Tuhan memberi kita kebenaran sebagaimana Dia memberikannya kepada Vyasa: yakni ketika kita benar-benar mencarinya dengan tulus.

Kebenaran itu kekal dan tak lekang oleh waktu. Jiwa menerima wahyu (revelation) ketika ia benar-benar mencari dan menginginkannya. Jiwa-jiwa para pemikir besar zaman-zaman lampau, yang kini hidup secara rohani, seringkali datang menghampiri semangat (spirit) kita untuk mengajukan pertanyaan-pertanyaan, dan mendampingi dalam mencapai perkembangan. Demikianlah Vyasa didampingi oleh Narada dan Brahma. Shastra-shastra kita, atau dengan kata lain buku-buku hasil pemikiran tersebut, tidaklah mengandung segala yang akan mampu kita peroleh dari Dia Yang Tanpa Batas.
 

Tidak ada kitab/buku yang tanpa kesalahan-kesalahan sama sekali. Wahyu Tuhan adalah kebenaran mutlak, namun ia jarang sekali diterima dan dipertahankan dalam kemurniannya yang alami. Kita telah diberi petunjuk di dalam Skanda 11 Bab 14 dari Bhagavata agar percaya bahwa kebenaran ketika diwahyukan adalah mutlak, namun ia mendapatkan corak sifat yang dimiliki oleh para penerimanya seiring berjalannya waktu dan kemudian mengalami perubahan menuju kesalahan-kesalahan melalui pertukaran tangan dari zaman ke zaman. Karena itu, wahyu-wahyu yang baru terus-menerus diperlukan untuk menjaga kebenaran tersebut tetap dalam kemurnian aslinya. Karena itulah kita diberi peringatan agar berhati-hati dalam melakukan studi terhadap penulis-penulis purba, seberapa pun bijaksananya reputasi mereka.

Kita memiliki kemerdekaan penuh untuk menolak gagasan-gagasan yang keliru, yang tidak dibenarkan oleh kedamaian hati nurani. Vyasa belum puas dengan apa yang telah beliau kumpulkan dari kitab-kitab Veda, yang telah beliau susun di dalam Purana-Purana, dan juga Mahabharata. Kedamaian hati nuraninya tidak mengesahkan segala upayanya tersebut. Hati nuraninya berkata, "Tidak, Vyasa! Engkau tidak bisa puas begitu saja dengan gambaran keliru tentang kebenaran yang telah disajikan kepadamu menurut apa yang dibutuhkan oleh resi-resi zaman purba. Engkau sendiri harus mengetuk pintu gudang kebenaran yang tanpa batas itu , tempat yang menjadi sumber kekayaan resi-resi zaman purba. Pergi, pergilah naik tinggi menuju puncak kebenaran, tempat dimana tidak ada peziarah yang akan bertemu dengan kekecewaan macam apa pun."
 

Vyasa melakukannya dan mendapatkan apa yang beliau inginkan. Kita semua telah disarankan untuk melakukan seperti itu. Maka kemerdekaan (liberty) adalah prinsip yang harus kita pandang sebagai hadiah Tuhan yang paling bernilai. Kita tidak boleh membiarkan diri kita digiring oleh mereka yang telah hidup dan berpikir pada masa-masa sebelum kita. Kita harus berpikir untuk diri kita sendiri dan berusaha untuk mendapatkan kebenaran-kebenaran yang lebih jauh yang masih belum terungkap/ditemukan. Di dalam Bhagavata kita telah disarankan untuk mengambil semangat (spirit) dari shastra dan bukan kata-katanya belaka. Karena itu Bhagavata adalah sebuah agama kemerdekaan, kebenaran yang tak tercampur, dan cinta yang absolut. 

Karakteristik yang lain adalah kemajuan (progres). Kemerdekaan (liberty) tentu adalah bapak dari segala kemajuan. Kemerdekaan suci adalah penyebab dari kemajuan yang mengantarkan naik dan semakin naik menuju keabadian dan kegiatan cinta yang tanpa akhir. Pelanggaran atas kemerdekaan menyebabkan kemerosotan, dan para Vaishnava harus selalu cermat untuk menggunakan hadiah Tuhan yang mulia dan indah ini.

Selasa, 18 September 2012

Laki-Laki atau Perempuan?

Menurut cara pandang Vaishnava, Tuhan tidaklah diatributkan sebagai laki-laki semata (Krishna, Visnu), walau mungkin demikian yang umumnya dipahami. Tuhan menciptakan bentuk-bentuk laki-laki dan perempuan, sehingga pada kedudukan aslinya Tuhan bukanlah laki-laki atau perempuan, namun Tuhan mengambil wujud-wujud laki-laki dan perempuan (avatar) untuk berpartisipasi dalam lila(kegiatan kesenangan/bersenang-senang). Namun disebabkan oleh kompleksitas ajaran-ajaran Vaishnava, seringkali orang keliru memahami apa yang sesungguhnya dimaksud sebagai shakti danshaktiman, dimana seringkali mereka keliru memahami dengan mengira filsafat itu berarti bahwa Tuhan hanyalah shaktiman (bermakna semantik maskulin/laki-laki), sehingga kekuatan-yang-tunduk-kepada-Nya, atau shakti-Nya (bermakna semantik feminin/perempuan), adalah berbeda dengan Tuhan. Pemahaman yang otentik menyebutkan bahwa Tuhan adalah keduanya, shakti dan shaktiman. Dinyatakan secara konstan dalam Vaishnava Vedanta bahwa tidak ada perbedaan antara kekuatan (energi) Tuhan dan Tuhan-sendiri-sang-pengendali-kekuatan (sumber energi), yakni bahwa shakti danshaktiman adalah identik, atau dua aspek dari sosok yang sama. Kekuatan (energi) Tuhan dan Tuhan-sendiri-sang-pengendali-kekuatan (sumber energi) adalah dua aspek dari keseluruhan Tuhan. Oleh karena pemaknaan jender digunakan untuk menjelaskan tentang shakti dan shaktiman (karena pada umumnya laki-laki lebih kuat daripada perempuan), seringkali orang memahami penggunaan semantik itu secara terlalu harfiah—yang berujung pada gagasan bahwa Tuhan adalah laki-laki. Yang diajarkan sesungguhnya adalah bahwa Tuhan memiliki dua aspek, yakni kekuatan (energi) Tuhan, atau shakti, dan pengendali kekuatan itu (sumber energi), atau shaktiman....

Selasa, 04 September 2012

Pemikiran-Pemikiran Kita. Dari mana kah datangnya?


Istilah free will dalam Bahasa Inggris memiliki beberapa definisi namun definisi yang paling umum digunakan dan yang paling umum dimaksudkan sebagai free will itu adalah sebagaimana yang terdapat dalam Oxford English Dictionary berikut ini: The power to act without the constraints of necessity or fate; the ability to act at one’s own discretion, atau terjemahan bebasnya dalam Bahasa Indonesia: kekuatan/kemampuan/daya untuk bertindak tanpa kendala/batasan kebutuhan atau takdir; kemampuan untuk bertindak atas kehendak sendiri. Sastra-sastra Veda mengajarkan bahwa kita tidaklah memiliki free will sebagaimana yang dimaksud menurut definisi di atas. Diajarkan bahwa kita dibatasi oleh sifat bawaan dan karma kita. Sifat dasar sang jiva (roh/atma) diajarkan oleh Krishna di dalam Bhagavad-gita (9.10):

mayadhyakshena prakritih
suyate sa-caracaram
hetunanena kaunteya
jagad viparivarttate

Prakriti (yakni segala sesuatu di alam semesta/energi sub-atomik) bekerja di bawah pengawasan-Ku, mayadhyakshena prakritih, mengendalikan sepenuhnya seluruh ciptaan, suyate sa-caracaram. Demikianlah bagaimana alam semesta ini bekerja wahai putra Kunti, hetunanena kaunteya jagad viparivarttate.

Bhagavad-gita 13.30:

prakrityaiva ca karmani
kriyamanani sarvasah
yah pasyati tathatmanam
akarttaram sa pasyati

Segala kegiatan yang terjadi, dalam segala keadaan, adalah dilakukan oleh prakriti, prakrtyaiva ca karmani kriyamanani sarvasah. Orang yang melihat, yah pasyati, bahwa atma bukanlah sang pelaku, atmanam akarttaram, dialah yang melihat dengan sebenarnya, sah pasyati.

Setelah menyabdakan hampir seluruh ayat Bhagavad-gita kita sampai pada beberapa sloka terakhir dimana Krishna meringkas ajaran-Nya kepada Arjuna. Bhagavad-gita dimulai dengan pernyataan Arjuna bahwa ia tidak akan mau bertempur. Setelah berbicara tentang sifat sejati atman dalam hubungan dengan Param Atman, Krishna mengakhiri dengan menyampaikan sebagai berikut kepada Arjuna (18.59-61):

yad ahankaram asritya
na yotsya iti manyase
mithyaiva vyavasayas te
prakritis tvam niyokshyati

Engkau berpikir bahwa engkau tidak mau bertempur, na yotsya iti manyase. Tapi itu terjadi disebabkan oleh pemahaman yang keliru tentang diri sejatimu dan tentang realitas yang sejati, yad ahankaram asritya. Ketetapan hati yang demikian adalah sia-sia, mithyaiva vyavasayas te, sebab prakriti akan menggerakkanmu (membuatmu bertempur), prakritis tvam niyokshyati.

svabhava-jena kaunteya
nibaddhah svena karmana
kartum necchasi yan mohat
karishyasy avaso ‘pi tat

Kehendakmu untuk tidak bertindak adalah ilusi, kartum necchasi yan mohat. Karena telah terikat oleh tindakan, nibaddhah svena karmana, yang muncul dari sifat aslimu wahai putra Kunti, svabhava-jena kaunteya, dalam keadaan yang sesungguhnya tak berdaya, engkau akan bertindak juga, karishyasy avaso ‘pi tat.

isvarah sarva-bhutanam
hrid-dese ‘rjuna tishthati
bhramayan sarva-bhutani
yantrarudhani mayaya

Sang Pengendali Tertinggi ada di hati semua makhluk wahai Arjuna, isvarah sarva-bhutanam hrid-dese ‘rjuna tishthati, mengatur pergerakan semua makhluk, bhramayan sarva-bhutani, yang duduk di atas mesin yang terbuat dari energi-Nya, yantrarudhani mayaya.

Bahkan jika kita tidak mengakui versi-versi sastra Veda tentang realitas sejati ini, melalui logika dan analisis dapat diperlihatkan bahwa kita tidak memiliki free will:

Bagaimanakah caranya diri kita membuat keputusan-keputusan dan kemudian bertindak menjalankan keputusan-keputusan tersebut? Tindakan-tindakan yang kita lakukan seolah-olah ditentukan 1) melalui proses mengikuti pemikiran-pemikiran yang timbul di benak kita 2)  melalui tindakan refleks yang spontan dan 3) melalui kombinasi dari keduanya (1 dan 2):

1) Jika saya memutuskan untuk menghidupkan komputer saya lalu menulis blog, tindakan tersebut nampak seolah ditentukan oleh pemikiran-pemikiran saya. Saya berpikir bahwa saya telah memutuskan untuk melakukan sesuatu dan kemudian saya melakukannya dengan cara mengikuti pemikiran-pemikiran yang terus timbul di benak saya.

2) Ketika saya menulis blog ini, jika tanpa sengaja kaki saya menendang meja dan kemudian segelas air di atas meja hendak tumpah, tanpa berpikir terlebih dahulu saya akan berusaha menangkap gelas itu sebelum ia tumpah. Ini adalah gerakan refleks.

3) Ketika saya menulis blog ini, pilihan tombol-tombol keyboard yang saya tekan adalah berdasarkan pada pemikiran-pemikiran saya, tetapi saya tidak memberitahu jari jemari saya untuk mengetik. Saya berkeinginan untuk mengetik dan nampak seolah jari-jemari saya bertindak di bawah kekuatan mereka sendiri seiring dengan munculnya kata-kata di dalam pikiran saya yang hendak saya ketikkan. Tindakan saya mengetik kata-kata tersebut adalah gabungan dari pemikiran dan gerakan refleks.

Nampak seolah-olah pemikiran-pemikiran saya lah yang menyebabkan sebagian besar tindakan-tindakan saya. Namun dapat ditunjukkan secara logis bahwa kita tidaklah mengendalikan pemahaman akan pemikiran-pemikiran kita:

Bagaimanakah sesungguhnya kita mengalami pemikiran-pemikiran kita? Pemikiran-pemikiran muncul baik sebagai kata-kata atau dialog kata-kata di dalam pikiran kita. Terasa seolah kita mendengar pemikiran-pemikiran tersebut. Pemikiran-pemikiran kita itu nampak seolah adalah sejenis suara namun tanpa tersusun atas gelombang-gelombang suara. Kita mendengar pemikiran-pemikiran kita dengan cara yang berbeda dengan bagaimana kita mendengar gelombang-gelombang suara melalui telinga. Ketika kita mendengar suara melalui telinga maka suara itu harus tercipta melalui sebuah vibrasi/getaran yang menyebabkan perubahan keseimbangan pada sebuah medium, misalnya udara ataupun air. Kemudian telinga menangkap vibrasi tersebut. Ketika kita menekan sebuah tombol piano maka vibrasi yang tercipta di udara menciptakan gelombang-gelombang suara, yang kemudian menggetarkan gendang telinga dan memungkinkan kita untuk mendengar suara yang dihasilkan tersebut.

Sementara, apa yang menyebabkan timbulnya suara pemikiran-pemikiran kita? Apakah diri kita yang merupakan penyebab suara-suara pemikiran tersebut? Jika demikian, bagaimana kita melakukannya? Kita tidak tahu. Yang kita ketahui hanyalah bahwa pemikiran-pemikiran muncul di dalam pikiran dan kita bisa mendengarnya dan biasanya kita meyakini bahwa kita lah yang menyebabkan pemikiran-pemikiran itu muncul. Namun kenyataannya kita tidaklah tahu bagaimana proses untuk membuat pemikiran-pemikiran itu timbul.

Adakah yang bisa memberitahu proses apakah yang terjadi yang terbukti memberi kita kendali atas pemikiran-pemikiran yang muncul di benak kita? Kita tidak tahu proses apa yang terjadi dan di mana proses itu terjadi. Karena itulah kita tidak dapat mengatakan bahwa kita tahu bagaimana cara mengendalikannya. Pemikiran-pemikiran muncul di dalam pikiran kita dan kita tidak punya gagasan yang dapat dibuktikan tentang bagaimana hal tersebut terjadi. Mengapa kita harus meyakini bahwa kita memiliki kendali atas pemikiran-pemikiran kita jika kita tidak mengetahui bagaimana sesungguhnya proses untuk menciptakan dan mengendalikan pemikiran itu terjadi?

Bagaimanakah cara kita untuk mengerti pemikiran-pemikiran kita? Pemikiran-pemikiran mengalir melalui pikiran dalam bentuk satu atau beberapa jenis bahasa. Bagaimanakah cara kita memahami bahasa-bahasa? Bagaimana cara kita mengetahui makna dari kata-kata dan juga tata bahasa? Misalkan saya mengalami sebuah pemikiran: Saya hendak memasak nasi—bagaimana cara saya memahami apa artinya kata nasi itu? Orang mungkin akan menjawab bahwa saya telah menjalani pengalaman pembelajaran terhadap kata-kata tersebut. Sekarang saya telah mengerti arti kata-kata tersebut sebab saya mengingat apa yang telah saya pelajari. Terdengar masuk akal. Tetapi, bagaimanakah caranya saya mengingat? Bagaimanakah caranya ingatan akan arti kata-kata tersebut menjadi saya ketahui saat ini?

Saya mengetahui melalui ingatan akan pengalaman sebelumnya bahwa kata nasi berarti biji dari tumbuhan padi. Di mana kah tempat tersimpannya ingatan akan kata nasi itu dan bagaimana caranya kemudian ingatan itu menjadi tersedia bagi saya? Bagaimana pun caranya hal itu terjadi, yang pasti adalah bahwa saya mengetahui satu hal: saya tahu bahwa saya tidak memiliki kendali atas bagaimana pengalaman-pengalaman masa lalu saya tersimpan atau dibuat menjadi tersedia bagi saya sebagai ingatan saya. Kemampuan untuk mengendalikan ingatan tersebut berada di luar kendali saya. Sebagai contoh: Jika saya meminta agar Anda menjelaskan alur cerita sebuah film yang baru saja Anda saksikan, maka apakah yang Anda kerjakan untuk menemukan ingatan tentang film itu ketika Anda berusaha untuk menceritakan kembali apa yang Anda lihat di dalam film itu? Tidak ada satu hal pun yang dapat kita lakukan. Kita tidak tahu di mana atau bagaimana menemukan sebuah ingatan. Ingatan itu muncul begitu saja di dalam pikiran. Anda tidak mencarinya sebab Anda tidak tahu di mana dan juga bagaimana caranya melakukan pencarian. Bagaimana pun caranya ingatan kita berfungsi, yang jelas adalah bukan disebabkan oleh kendali kita atas ingatan-ingatan tersebut.

Apa yang dapat kita simpulkan?:

1) Untuk dapat memahami pemikiran-pemikiran kita, kita memerlukan ingatan untuk mengerti bahasa dari pemikiran-pemikiran kita.

2) Kita tidak mengendalikan ingatan.

3) Kita tidak tahu tersusun atas “suara” apakah pemikiran-pemikiran kita, dan kita juga tidak tahu bagaimana menciptakan dan mengendalikan suara pemikiran tersebut. Karena itu kita sesungguhnya tidak mengetahui bagaimana pemikiran-pemikiran kita muncul.

4) Pemikiran-pemikiran muncul di dalam pikiran kita tanpa kita mengetahui bagaimana menciptakan ataupun mengendalikannya, atau bahkan apa sesungguhnya pemikiran itu kita tidak tahu. Ingatan memungkinkan kita untuk mengerti bahasa dari pemikiran-pemikiran kita. Kita mengerti bahasa dari pemikiran-pemikiran kita tanpa kita sendiri mengendalikan ataupun mengerti bagaimana cara berfungsinya ingatan kita.

5) Jika kita melakukan tindakan-tindakan yang berdasarkan pada pemikiran-pemikiran kita–dapat diperlihatkan bahwa kita bukanlah yang mengendalikan tindakan-tindakan kita sebab kita tidak tahu bagaimana mengendalikan terciptanya maupun proses pemahaman terhadap pemikiran-pemikiran kita.

Jadi bahkan jika kita tidak mempercayai sastra ketika dijelaskan bahwa kita tidak memiliki free will, ketika dijelaskan bahwa Paramatma mengendalikan kita dengan cara menjalankan fungsi sebagai pikiran kita dan mengendalikan pikiran kita, tetap saja masih dapat diperlihatkan melalui analisis logis bahwa kita tidaklah mengendalikan proses pemikiran kita. Karena itu, kita tidak memiliki kendali atas tindakan-tindakan atau kehendak-kehendak kita.

Akan banyak yang beragumen: Kita pasti memiliki free will. Jika tidak demikian bagaimana mungkin kita memiliki karma? Bagaimana mungkin kita tetap dituntut bertanggungjawab atas pilihan-pilihan kita jika kita tidak memiliki free will?

Sastra dan analisis logis menjelaskan kepada kita bahwa kita tidak memiliki free will, yakni kekuatan/kemampuan/daya untuk bertindak tanpa kendala/batasan kebutuhan atau takdir; kemampuan untuk bertindak atas kehendak sendiri.

Kita memiliki kemampuan bawaan untuk menginginkan, tetapi bukan free will untuk melaksanakan keinginan tersebut. Bhakti adalah soal menyucikan keinginan melalui dihancurkannya avidya (kebodohan/keadaan tidak berpengetahuan) dan ahankara (keakuan palsu). Kita tidak memiliki free will untuk memilih jalan apa yang akan kita lalui dalam segala yang kita lakukan atau alami. Disebabkan oleh keinginan kita untuk menjadi bebas tersendiri dari realitas tentang bagaimana sesungguhnya keberadaan kita, disebabkan oleh keinginan kita untuk tidak menjalani hidup di bawah kendali pihak lain (Tuhan), kita akhirnya ditempatkan dalam sebuah keadaan dimana berangsur-angsur kita akan menyucikan keinginan kita. Kita tidak memiliki pilihan lain selain berada di bawah kendali pihak lain. Kita benar-benar tidak bisa memiliki keberadaan yang tanpa berada di bawah kendali Tuhan. Kita bergantung sepenuhnya kepada Tuhan dalam hal kemampuan kita untuk menjalankan fungsi sebagai makhluk yang berkecerdasan. Kita tidak mampu mengendalikan pemikiran-pemikiran kita, ingatan kita, tindakan-tindakan kita. Kita benar-benar tidak memiliki kemampuan seperti kemampuan yang dimiliki Tuhan untuk memiliki keberadaan secara bebas tersendiri.

Sang jiva akan terus mengalami kelahiran demi kelahiran dalam keadaan disesatkan oleh avidya dan ahankara sampai keinginan mereka disucikan. Keinginan mereka membentuk tindakan-tindakan mereka, bukan atas free will mereka sendiri, melainkan atas will dari Paramatma dalam memutuskan apa yang pelu dialami sang jiva untuk dapat terbebas dari sikap penolakan terhadap kendali Tuhan. 

Karma jauh lebih kompleks daripada apa yang sering dipikirkan orang. Seringkali karma dipandang secara sederhana sebagai aksi-reaksi—jika kita berbuat buruk maka kita akan dihukum. Realitasnya adalah bahwa karma didesain untuk menyucikan keinginan sang jiva. Karma bukan soal pembalasan dendam, melainkan adalah soal mengubah sikap penolakan menjadi penerimaan terhadap pengendalian Tuhan. Penyebab jiva menjadi tunduk di bawah hukum karma dan samsara adalah karena jiva tidak ingin menerima realitas dari keberadaan sejatinya yang adalah bagian dari Tuhan dan berada di bawah kendali Tuhan.

Senin, 30 Juli 2012

Dunia Ini Sebagai Sebuah Realitas Virtual

Realitas Virtual (virtual reality) yang telah mampu dihasilkan oleh teknologi komputer, dapat digunakan sebagai analogi yang sempurna bagi realitas sejati kita di dunia ini. Dalam sebuah dunia Realitas Virtual segala yang kita lihat nampak nyata (dengan menggunakan teknologi modern terbaik). Contohnya adalah film AVATAR. Dalam film tersebut Jake Sully memakai sebuah perangkat dan kemudian kesadaran dan pikirannya masuk ke dalam badan sesosok makhluk Pandora. Kemudian ia bisa hidup dan bernafas di tengah-tengah atmosfer planet Pandora. Tentu saja di dalam film itu planet Pandora itu bukan dianggap sebagai sebuah dunia Realitas Virtual, namun sesungguhnya adalah Realitas Virtual karena segala sesuatu di dunia itu adalah sebuah animasi 3 dimensi, yang seolah nyata, yang dihasilkan oleh komputer. Film tersebut memperlihatkan betapa telah majunya teknologi modern dalam membuat sebuah dunia Realitas Virtual menjadi nampak sangat nyata. Dan apa yang membuatnya lebih mirip lagi dengan Realitas Virtual adalah bahwa animasinya didasarkan pada gerakan-gerakan dari aktor-aktor yang sesungguhnya. Para aktor mengenakan pakaian khusus agar gerakan mereka mampu ditangkap oleh sebuah program komputer, yang kemudian dianimasikan secara digital.

Dunia kita ini juga adalah sebuah dunia Realitas Virtual, namun dengan teknologi yang berbeda dengan Realitas Virtual yang diciptakan oleh komputer. Ketika kita menonton film atau video pada komputer kita, apa yang sedang kita lihat adalah bit-bit data digital yang disusun membentuk pola-pola di dalam sebuah platform teknologi yang menerjemahkan informasi digital tersebut menjadi bentuk-bentuk dan warna-warna pada sebuah layar, yang kemudian menghasilkan ilusi realitas. Ketika kita menonton video Justin Beiber misalnya, nampak bahwa seolah kita benar-benar sedang melihat dia menyanyi dan menari, namun kenyataannya adalah bahwa itu hanyalah bit-bit data yang disusun untuk menciptakan ilusi realitas. Untuk merasakan dan mengalami dunia Realitas Virtual di dalam komputer, kita memerlukan perlengkapan khusus untuk bisa berbicara dan mendengarkan, dan perlengkapan khusus yang ditempelkan di tangan dan kaki, sehingga komputer dapat menangkap gerakan-gerakan kita dan menerjemahkannya ke dalam sosok Realitas Virtual kita di dalam dunia 3 dimensi yang dihasilkan oleh komputer. 

Setelah masuk berada di dalam dunia Realitas Virtual kita akan memiliki sebuah badan dan dapat berinteraksi dengan lingkungan di dalam, namun lingkungan tersebut seluruhnya tersusun atas bit-bit data, dan disebabkan oleh hal itu maka orang yang mengendalikan komputer tersebut akan dapat menciptakan dan mengendalikan segalanya sesuai dengan yang diinginkan. 

Keadaan dunia kita ini sebenarnya sangat mirip dengan sebuah dunia Realitas Virtual, namun dengan sebuah teknologi yang jauh lebih rumit di balik semuanya. Dalam sebuah Realitas Virtual di dalam komputer, segala yang kita lihat tersusun atas bit-bit data yang diterjemahkan ke dalam sebuah platform audio-visual. Sedangkan dunia kita ini tersusun atas bit-bit partikel kuantum zat/materi/energi, yang ketika direduksi sampai bagian terkecilnya akan mengungkap sebuah realitas yang sangat ajaib yang mencengangkan para ahli fisika. 

Partikel-partikel kuantum terkecil zat entah bagaimana nampak seolah berubah secara ajaib dari keadaan tidak bermassa atau tidak memiliki berat, menjadi bermassa atau memiliki berat, yang kemudian membentuk partikel-partikel yang lebih besar, yang selanjutnya menyusun segala unsur yang ada di dunia ini. Teori yang sedang mengemuka adalah bahwa ada sejenis lapangan energi yang mahameluas, maha-ada, substansi yang belum dikenal (lapangan energi Higgs, atau partikel Higgs Boson/ “Partikel Tuhan”) yang entah bagaimana menyebabkan partikel-partikel kuantum yang tak bermassa itu berubah menjadi memiliki massa, yakni menjadi memiliki substansi berat dan wujud 3 dimensi. 

Partikel-partikel kuantum terkecil tersebut bukanlah partikel-partikel dalam makna seperti partikel-partikel pasir, dimana sesungguhnya itu adalah lapangan energi, substansi yang abstrak, dengan sifat-sifat seperti energi gelombang, misalnya gelombang suara, dan juga pada saat yang sama memiliki sifat-sifat sebagai partikel. Realitas tentang zat pada tataran kuantum sangatlah tidak terduga dan membingungkan para ilmuwan sebab nampak seolah hal itu mustahil. Teori-teori yang sangat populer menyarankan tentang adanya dimensi-dimensi alternatif untuk membantu menjelaskan apa yang sedang diamati pada tataran kuantum, dan juga gagasan tentang alam semesta sebagai sebuah Realitas Virtual memang telah didalilkan oleh para ahli fisika. 

Dan mereka memang benar, alam semesta kita adalah sebuah Realitas Virtual dan ditopang oleh dimensi-dimensi alternatif yang tak terlihat. Sifat-sifat tak biasa yang dimiliki oleh zat pada tingkat kuantum disebabkan oleh keterlibatan dimensi-dimensi alternatif yang tidak mampu diditeksi oleh mesin-mesin 3 dimensi. Seperti halnya pemikiran-pemikiran kita, yang berada pada dimensi alternatif di luar zat, sehingga pemikiran-pemikiran tersebut tidak bisa dideteksi secara langsung oleh sebuah mesin yang terbuat dari zat sebab pemikiran-pemikiran tersebut berada pada sebuah dimensi yang berbeda. 

Pemikiran-pemikiran kita tersusun bukan atas partikel-partikel atau unsur-unsur kuantum. Namun pemikiran-pemikiran tersebut memang ada. Demikian pula, apa yang mampu diamati oleh para ilmuwan di dunia ini serupa dengan apa yang mampu kita lihat dari sebuah gunung es—hanya puncak gunung es itulah yang terlihat sebab sebagian besar dari gunung es itu berada di bawah air. Ketika kita memandang seseorang kita tidak dapat melihat orang itu seutuhnya, melainkan kita hanya melihat segala yang tersusun atas zat dalam ruang 3 dimensi. Apa yang tak mampu kita lihat? Bagian yang paling penting, yakni lapangan kesadaran dan pikiran yang mengendalikan badan tersebut. 

Alam semesta kita yang kasat mata ini juga adalah sesuatu yang seperti itu. Partikel-partikel kuantum adalah bagian dari sebuah makhluk semesta yang berada pada dimensi yang jauh lebih banyak daripada sekadar 3 dimensi zat, beserta kesadaran dan pikiran, yakni bahwa seluruh alam semesta (yang kasat mata dan yang tidak kasat mata) adalah sebuah mahapikiran yang mahasadar, atau super-komputer yang sadar. Namun tidak seperti sebuah komputer yang hanya mengendalikan bit-bit data digital yang ada di dalam komputer, super-komputer semesta ini mengendalikan bit-bit materi (zat/ energi) yang ada di dalam dirinya sendiri, yakni segala sesuatu yang ada di dalam alam semesta ini. 

Sebuah komputer menyadari dan mengendalikan setiap bit data yang ada di dalam drive-drive-nya, dan ia menggunakan kesadaran dan kendali tersebut untuk menciptakan piksel-piksel warna pada sebuah layar (sebuah layar 3 dimensi untuk menampilkan realitas virtual) yang ketika digabungkan dalam jumlah yang cukup banyak menciptakan apa yang nampak seperti dunia nyata. Video super high definition, khususnya yang memiliki fasilitas 3 dimensi, nampak persis seperti kenyataan. Namun itu sesungguhnya hanyalah bit-bit data digital yang dimanipulasi di dalam sebuah bagian dari sebuah komputer, yang menciptakan sebuah ilusi realitas melalui sebuah teknologi pemroses informasi yang sangat rumit dan canggih. 

Demikian pula, Tuhan, sesosok super-komputer semesta, memiliki kendali atas seluruh zat/materi bahkan dari tingkatan kuantum, yang berada baik di dalam Tuhan maupun sebagai bagian dari Tuhan. Zat bertindak sangat aneh pada tingkat kuantum sebab ia adalah bagian dari sebuah lapangan energi ekstra-dimensi yang bukan hanya berkesadaran dan berkecerdasan, melainkan juga mengendalikan energi tersebut, menggunakan sebagian dari energi/ keberadaannya sendiri yang sadar tersebut untuk mewujudkan partikel-partikel kuantum menjadi rangkaian-rangkaian informasi tertentu—yang menyebabkan mereka membentuk partikel-partikel yang lebih besar, yang bersesuaian dan tepat secara matematis seperti atom-atom, dan kemudian menjadi molekul-molekul, dan kemudian menjadi unsur-unsur, dan selanjutnya menjadi segala sesuatu yang ada di dalam alam semesta kita yang tersusun atas unsur-unsur seperti misalnya tetumbuhan, binatang, air, udara, tanah, api, dsb. 

Bagaimana Tuhan melakukan semua itu? Bagaimana sebuah komputer mampu menciptakan sebuah ilusi realitas hanya dengan menggunakan bit-bit informasi digital? Sebab ia memiliki kendali penuh atas bit-bit data tersebut dengan teknologi yang canggih dan mampu mengolah semua itu untuk menciptakan ilusi macam apa pun. Tuhan mengendalikan dunia kita ini dengan cara yang serupa. Pada hakikatnya kita hidup di dalam sebuah super-komputer yang memiliki kesadaran semesta yang mengendalikan zat/energi seperti halnya sebuah komputer yang mengendalikan bit-bit data digital. Kita tidak mampu melihat keseluruhan super-komputer yang berkesadaran tersebut sebab ia berada pada dimensi-dimensi yang lebih banyak daripada 3 dimensi yang mampu kita lihat dengan mata kita—seperti halnya komputer berada di dalam dimensi-dimensi yang lebih banyak daripada video yang ia ciptakan dan tampilkan, atau bahwa kesadaran dan pikiran kita berada di dalam sebuah dimensi yang berbeda dengan badan yang ditempati dan dikendalikannya. 

Bhakti-yoga sesungguhnya adalah soal mengembangkan kemampuan untuk berelasi/menjalin hubungan sedekat mungkin dengan sang super-komputer semesta itu—atau Isvara—sebuah kata bahasa Sanskerta yang menunjukkan Tuhan, yang secara harfiah berarti memerintah atau mengendalikan. Di dalam sebuah dunia Realitas Virtual yang dihasilkan oleh komputer, para user tampil sebagai karakter atau pemain dalam bentuk-bentuk digital yang disebut avatar. Avatar adalah kata bahasa Sanskerta yang secara harfiah berarti turun atau memasuki. Kata tersebut digunakan untuk menguraikan tentang tentang Tuhan yang mengambil wujud kehidupan di dalam dunia kita, seperti halnya seorang user turun atau masuk ke dalam badan-badan yang tersedia di dalam sebuah Realitas Virtual yang dihasilkan oleh komputer. 

Mengenai kedudukan Tuhan sendiri, Tuhan adalah komputer itu sendiri dan sang user, atau sang super-user. Bhakti-yoga adalah proses untuk mengerti siapa diri kita, bagaimanakah Tuhan itu sesungguhnya, dan apa tujuan hidup kita. Kita bukan hanya diajarkan bahwa Tuhan berada di mana-mana, dan memiliki kendali penuh atas segalanya dan juga sesungguhnya menyusun segalanya di dalam alam semesta ini, melainkan juga bahwa Tuhan hadir sebagai pikiran kita dan mengendalikan pikiran kita. Diri kita bukanlah pikiran kita, kita mengamati pikiran kita, kita menggunakan pikiran kita, tapi kita berbeda dengan pikiran tersebut—sebab kita adalah energi yang berkesadaran itu yakni atman.

Śrīmad Bhāgavatam 3.26.28

yad vidur hy aniruddhākhyaḿ
hṛṣīkāṇām adhīśvaram
śāradendīvara-śyāmaḿ
saḿrādhyaḿ yogibhiḥ śanaiḥ

Pikiran makhluk hidup dikenal dengan nama Sri Aniruddha, pengendali tertinggi indera-indera. Dia memiliki wujud berwarna hitam kebiru-biruan bagaikan sekuntum bunga padma yang mekar pada musim gugur. Dia ditemukan secara perlahan-lahan oleh para yogi.

Aniruddha adalah nama lain bagi perwujudan atau ekspansi Tuhan yang dikenal sebagai Paramatma, sang kesadaran tertinggi, pikiran Tuhan yang mahameluas dan meliputi segalanya. Tidaklah begitu tepat jika dikatakan bahwa Tuhan hanya “muncul di dalam pikiran” melainkan bahwa Tuhan mengungkap Diri-Nya sebagai sang pikiran itu sendiri, atau sang pengendali pikiran.

Śrīmad Bhāgavatam 1.2.11

vadanti tat tattva-vidas
tattvaḿ yaj jñānam advayam
brahmeti paramātmeti
bhagavān iti śabdyate

Para rohaniwan berpengetahuan yang mengenal Kebenaran Mutlak menyebut substansi tunggal tersebut sebagai Brahman, Paramatma atau Bhagavan.

Brahman adalah aspek impersonal Tuhan; dalam analogi tentang sebuah komputer tersebut maka Brahman adalah hardware atau perangkat kerasnya. Paramatma adalah aspek kecerdasan atau pikiran Tuhan; dalam analogi tentang sebuah komputer tersebut maka Paramatma adalah software atau perangkat lunak, yakni sistem pemroses informasi. Bhagavan adalah personalitas Tuhan; dalam analogi tentang sebuah komputer tersebut maka Bhagavan adalah sang user atau pengendali, yakni sosok pribadi yang mengendalikan komputer tersebut. Namun dalam hal Tuhan, komputer itu sendiri adalah sang user, komputer itu sendiri adalah sesosok makhluk sadar yang mengendalikan komputer tersebut sebagai super-user

User biasa akan bergantung pada komputer untuk urusan pemrosesan informasi dan segala yang dikerjakan oleh komputer agar sang user dapat melakukan fungsi dalam sebuah realitas virtual. Demikian pula, kita bergantung kepada Tuhan dalam hal pemrosesan informasi di dalam pikiran kita, yang memungkinkan kita untuk berfungsi sebagai seseorang yang berkecerdasan. Sebagai contoh: kemampuan kita untuk memproses informasi dan memahami segala sesuatu didasarkan pada ingatan. Seperti halnya sebuah sistem ingatan/memori pada sebuah komputer memungkinkan sang user untuk bermain dalam sebuah realitas virtual, kemampuan kita untuk berfungsi sebagai seseorang yang berkecerdasan di dunia kita ini adalah disebabkan oleh kuasa kendali yang menyediakan ingatan-ingatan untuk kita. 

Tanpa ingatan-ingatan tersebut kita tidak akan mampu memahami apa pun, melainkan sepanjang waktu kita akan menjadi seperti bayi yang baru lahir. Tetapi, kita mengetahui di mana kita sedang berada saat ini; kita mengenal segala yang ada di sekitar kita; kita mampu mengerti bahasa, bukan hanya suara melainkan juga kata-kata beserta makna-maknanya. Faktanya, kehidupan kita sebagai manusia yang berkecerdasan bergantung sepenuhnya pada sebuah sistem ingatan dimana sistem ingatan itu sama sekali di luar kendali kita dan kita tidak memiliki akses untuk memasukinya. Kita mengetahui begitu saja apa yang kita ketahui dan ingat begitu saja dengan apa yang kita ingat tanpa perlu mencari melalui media-media penyimpanan data. Bahkan jika kita ingin mengetahui sesuatu, kita tidak akan mengetahui di mana harus mencarinya, kita tidak akan memiliki ingatan tentang bagaimana mengetahui cara untuk mencarinya, sebelum ingatan tentang bagaimana cara mencarinya tersebut disediakan terlebih dahulu kepada kita. 

Ingatan-ingatan muncul begitu saja di dalam pikiran kita. Beberapa jenis ingatan bersifat bawah-sadar: misalnya bagaimana cara membaca dan menulis; bagaimana mengkoordinasikan gerakan-gerakan tubuh; bagaimana memahami bahasa, dsb. jenis-jenis ingatan lainnya bersifat sadar: misalnya mengingat alur dari sebuah buku yang kita baca atau sebuah film yang kita tonton; mengingat filsafat; mengingat nama; dsb. Dalam kedua jenis ingatan tersebut kita tidak memiliki kendali atas muncul dan menghilangnya ingatan-ingatan tersebut. Semuanya muncul begitu saja di dalam pikiran kita yang memungkinkan kita untuk menjalani hidup sebagai makhluk yang cerdas. Kadangkala kita merasa bahwa kitalah yang mengendalikan ingatan, tetapi, apa yang bisa kita lakukan untuk berusaha mengingat sesuatu? Ke mana kita akan mencari ingatan tersebut? Tidak ada tempat untuk mencarinya, sebab ingatan muncul dan menghilang begitu saja di dalam pikiran kita. 

Krishna menjelaskan di dalam Bhagavad-gita bahwa Dialah yang menyediakan ingatan-ingatan kepada kita. Krishnalah yang mengendalikan sistem ingatan kita sebab Krishna menjalankan fungsi sebagai pikiran, memberi kita ingatan sesuai dengan kehendak-Nya. Pikiran Tuhan sendiri adalah bagaikan software dalam sebuah komputer, yakni bahwa ia memproses informasi yang tersimpan di dalamnya dan membuatnya tersedia bagi sang user:

Bhagavad-gita 15.15

sarvasya cāhaḿ hṛdi sanniviṣṭo
mattaḥ smṛtir jñānam apohanaḿ ca
vedaiś ca sarvair aham eva vedyo
vedānta-kṛd veda-vid eva cāham

Aku bersemayam di dalam hati setiap makhluk. Ingatan, pengetahuan dan pelupaan berasal dari-Ku. Akulah yang harus diketahui dari segala Veda; memang Akulah yang menyusun Vedanta, dan Akulah yang mengetahui Veda.

Bhagavad-gita 18.61

īśvaraḥ sarva-bhūtānāḿ
hṛd-deśe 'rjuna tiṣṭhati
bhrāmayan sarva-bhūtāni
yantrārūḍhāni māyayā

Sang Pengendali Tertinggi bersemayam di hati semua orang, wahai Arjuna, dan Dia mengarahkan pengembaraan semua makhluk hidup, yang duduk seolah-olah pada sebuah mesin terbuat dari tenaga material. 

Bhakti-yoga mengajarkan bagaimana caranya mencapai keinsafan diri. Keinsafan diri meliputi pemahaman akan: apa dan siapa diri kita; bagaimana cara kita menjalankan fungsi kita di dunia ini; apa dan siapa Tuhan itu; dan apa tujuan hidup kita. Tujuannya adalah untuk mengerti secara penuh tentang segalanya, atau mengerti sejauh yang mungkin dimengerti tentang sifat dari keadaan sejati kita, dan kemudian untuk masuk ke dalam hubungan pribadi secara fisik dengan perwujudan dari sang pengendali alam semesta. Tuhan menciptakan wujud laki-laki dan perempuan dan muncul dalam kedua wujud tersebut untuk menjalin hubungan dengan laki-laki dan perempuan. 

Tetapi, pertama-tama kita perlu mengerti segalanya sampai pada tingkat dimana Tuhan dapat menikmati sebuah hubungan dengan seseorang yang mampu memuaskan Tuhan pada tingkatan intelektual, yang sedekat mungkin dengan tingkat intelektual Tuhan. Ketika kita akhirnya mencapai tingkat kesempurnaan tertinggi bagi diri kita, Tuhan memberi kita avatar atau badan baru untuk kita gunakan, yang muda, segar dan rupawan, yang tidak akan menua melainkan tetap pada usia muda. Namun sebelum tingkat itu dicapai kita perlu mengerti bagaimana pikiran kita bekerja agar kita dapat berada dalam komunikasi konstan/tanpa putus dan tidak keliru dalam memahami sifat sejati diri kita dalam hubungan dengan Tuhan. Kita cenderung untuk keliru menyamakan diri kita dengan pikiran, dan kita juga cenderung untuk keliru menyamakan orang lain dengan pikiran mereka. Kita perlu mencapai pemahaman yang jernih tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi agar Tuhan dapat menikmati hubungan dekat dengan kita:

Srimad-Bhagavatam 3.28.35-36

muktāśrayaḿ yarhi nirviṣayaḿ viraktaḿ
nirvāṇam ṛcchati manaḥ sahasā yathārciḥ
ātmānam atra puruṣo 'vyavadhānam ekam
anvīkṣate pratinivṛtta-guṇa-pravāhaḥ

Ketika dengan demikian pikiran terbebas dari segala pencemaran material dan bebas dari tujuan-tujuan material, ia persis seperti nyala sebuah lampu. Pada saat itu pikiran benar-benar terhubung dengan pikiran Tuhan dan dirasakan menyatu dengan Tuhan sebab pikiran terbebas dari aliran sifat-sifat material yang saling mempengaruhi.

so 'py etayā caramayā manaso nivṛttyā
tasmin mahimny avasitaḥ sukha-duḥkha-bāhye
hetutvam apy asati kartari duḥkhayor yat
svātman vidhatta upalabdha-parātma-kāṣṭhaḥ

Dengan mantap seperti itu pada tingkat spiritual tertinggi, pikiran terhenti dari segala reaksi material dan menjadi mantap dalam keagungannya sendiri, melampaui segala konsep kebahagiaan dan penderitaan material. Pada saat itu sang yogi menginsafi kebenaran tentang hubungan dirinya dengan Personalitas Tuhan Yang Maha Esa. Ia menemukan bahwa kenikmatan dan rasa sakit, demikian pula interaksi di antara keduanya, yang ia hubungkan dengan dirinya sendiri, sesungguhnya disebabkan oleh ego palsu, yang merupakan produk dari kebodohan. 

Kita perlu mengerti bahwa kita tidaklah sendirian di dalam pikiran kita. Kita dengan Tuhan adalah bagaikan pasangan kembar di dalam pikiran kita, ditambah bahwa Tuhan adalah sang rekan yang merupakan pengendali. Kita satu dengan Tuhan, tetapi tidak sama. Segala sesuatu yang terjadi di dunia kita ini tidaklah terjadi secara sembarangan atau kacau-balau tanpa kendali. Dunia ini sejatinya adalah sebuah dunia virtual dimana sang super-user/super-komputer sedang mengendalikan pikiran semua orang dan segala sesuatu yang ada. Pengalaman apa pun yang kita alami adalah apa yang Tuhan inginkan untuk kita alami; tidak ada sesuatu yang berdiri secara bebas tersendiri. Seperti halnya tidak ada sesuatu pun di dalam sebuah dunia digital virtual yang terjadi secara bebas tersendiri dari komputer yang menghasilkannya.

Di dalam Skanda 11 Srimad-Bhagavatam (11.13.24) Krishna bersabda:

manasā vacasā dṛṣṭyā
gṛhyate 'nyair apīndriyaiḥ
aham eva na matto 'nyad
iti budhyadhvam añjasā

Di dunia ini, segala yang dialami dan dirasakan oleh pikiran, kata-kata, mata ataupun indera-indera lainnya adalah Diri-Ku semata dan tidak ada yang lain selain Aku. Kalian semua pahamilah hal ini melalui analisis yang bersifat langsung dan apa adanya terhadap kenyataan-kenyataan yang ada.

Srimad-Bhagavatam 11.13.30:

yāvan nānārtha-dhīḥ puḿso
na nivarteta yuktibhiḥ
jāgarty api svapann ajñaḥ
svapne jāgaraṇaḿ yathā

Sesuai dengan petunjuk-petunjuk-Ku, orang hendaknya memantapkan pikirannya hanya kepada-Ku. Akan tetapi, jika ia masih saja terus melihat banyak nilai dan tujuan yang berbeda-beda dalam hidup ini dan bukannya melihat segalanya di dalam Diri-Ku, maka walaupun ia nampak seolah-olah terjaga/sadar, sesungguhnya ia sedang bermimpi disebabkan oleh pengetahuan yang tidak lengkap, seperti halnya seseorang mungkin bermimpi bahwa ia telah terbangun dari sebuah mimpi.